Kata Kunci Al Qur'an : GHAYDZ
Oleh: Ust Ahmad Hariyadi
Kamis, 31 Agu 2006 09:53 WIB

Apa arti ghaydz? Benarkah menahan ghaydz termasuk salah satu ciri orang yang bertakwa? Bagaimana cara mengendalikannya?

Ghaydz artinya marah (sangat marah). Kata ghaydz disebut sebanyak 4 kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam surat Ali Imran/3: 119, 134, At taubah/9:15, dan Al Mulk/67: 8. Berikut ini redaksi penggunaan kata ghaydzbaik dalam konteks orang kafir maupun orang beriman.

a. Orang Kafir
“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka , padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata,’Kami beriman’ dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran ghaydz (marah) kepadamu. Katakanlah kepada mereka,’Matilah kamu karena ghaydz(kemarahan) mu itu’ Sesungguhnya Allah menguasai isi hati” (Ali Imran/3: 119)

Ayat di atas menceritakan tentang manis muka yang dimunculkan orang-orang Yahudi, namun dibalik itu mereka menyimpan (ghaydz) kemarahan yang luar biasa kepada ummat Islam. Sementara ummat Islam saat ini selalu cenderung bersikap lemah lembut dan berprasangka baik terhadap mereka (Yahudi maupun Nashrani). Padahal Allah sudah menginformasikan akan adanya ghaydz(kemarahan bercampur benci) dari orang-orang Yahudi terhadap ummat Islam.

b. Orang Beriman
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya dalam keadaan lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan (ghaydz) amarahnya, dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang muhsin” (Ali imran/ 133-134). Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa sebagian ciri dari orang yang bertakwa itu adalah mereka yang mampu menahan ghaydz.

“Perangilah mereka niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan perantaraan tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka , serta melegakan hati orang-orang beriman, dan menghilangkan ghaydz (kemarahan) hati orang-orang beriman. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana (At Taubah/9: 14 – 15)

Peperangan yang ditegakkan oleh kaum muslimin tidak semata-mata didasari keangkaramurkaan-–untuk mendapat dan mempertahankan kekuasaan--, namun untuk kepentingan tegaknya hukum di masyarakat. Sehingga ketika membunuh musuhnya pun, pembunuhan ini dilakukan tetap dalam koridor-koridor syar’i, tidak menyiksa terlebih dahulu orang-orang yang akan dibunuhnya.

Menahan ghaydz—-yang merupakan salah satu ciri orang yang bertakwa--tentu sulit mewujudkannya. Gambaran penjelasan dari hadit-hadits berikut akan semakin memperjelas sulitnya menahan ghaydz. ‘Tidaklah seorang hamba menelan sebuah tegukan mendapat pahala yang lebih besar dari pada menahan marah, karena mengharap wajah Allah Ta’ala’ (HR. Ibnu Majah)

‘Barang siapa dapat menahan ghaydz (marah), sementara dia berkemampuan untuk membalasnya, Allah akan menyerunya di atas pimpinan makhluk. Sehingga dia didatangi oleh bidari-bidari, dan dia akan dipasangkan sesuai dengan yang dia kehendaki” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)

Secara teknis Rasulullah saw juga menjelaskan cara yang dapat dilakukan untuk dapat menahan marah, yaitu dengan mengucapkan kalimat, A’uzubillahi minasy syaytanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan yang terkutuk) (lihat hadits riwayat Bukhari). Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika belum juga berhenti marahnya, maka berbaringlah. (lihat hadits riwayat Ibnu Majah)


Progress Report adalah laporan perkembangan pekerjaan pelanggan. Link ini, merupakan bukti keseriusan kami terhadap amanah yang diberikan pelanggan kepada kami.


Kata Kunci Al Quran:
Oleh: Ust Ahmad Hariyadi
MUSHIBAH
Senin, 9 Apr 2007 12:24 WIB

Bagaimana kesudahan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah? Bagaimana proses kehancuran para penentang para rasul?

arsip hanif (ust. Ahmad)


“Hidup”, Bersyukurlah!
Oleh: Ust. Heru Pudji Hartanto
Selasa, 5 Sep 2006 10:51 WIB

“Mengapa hidup ini bukan pilihan?”

“Memangnya kenapa dengan hidup ini?”

“Bila seandainya hidup ini adalah sebuah pilihan, tentu saya lebih memilih untuk tidak pernah hidup!”

“Ada apa dengan hidup Ibu?”

“Hidup saya hampir sepenuhnya berisi duka dan derita.”


arsip hanif (ust. Heru)

Media, Ghibah, dan Aib itu!
Senin, 23 Mar 2009 13:51 WIB

Pagi pukul 06.30. Kompleks perumahaan kami didatangi banyak loper koran—tepatnya koran kriminalitas terbitan Surabaya. Mereka berteriak-teriak menyebut nama komplek perumahan kami. Langsung terbayang ...

arsip hikmah


Dialog Online: