Kata Kunci Al Qur'an : MA’SIYAH
Oleh: Ust Ahmad Hariyadi
Jum'at, 30 Jun 2006 10:17 WIB

Apa ma'siyah itu? Apa akibat yang akan dirasakan oleh pelaku ma'siyah? Mengapa banyak pelaku ma'siyah yang hidup dalam gelimang harta?

Ma’siyah (ma'siyat) adalah perilaku yang menyimpang dari syariat. Kadar penyimpangan sangat beragam, mulai dari yang sederhana dan berkategori ringan sampai dengan penyimpangan yang berkategori berat. Kemaksiyatan dapat berupa perilaku keseharian, seperti: jelalatan melihat lain jenis yang bukan muhrimnya atau perilaku yang terjadi langka, seperti misalnya: kekafiran.

Dalam beberapa ayat berikut Allah menjelaskan tentang akibat yang akan diterima pelaku ma’siyat:

a. Rizki yang sempit
Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabbnya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah mereka (Al Maidah/5:66). Ayat ini menjelaskan bahwa kemudahan memperoleh rizki akan dimudahkan Allah jika hambaNya tidak melakukan penyimpangan dari syariat yang diturunkanNya.

b. Kecelakaan besar
Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin…. Tetapi karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu… (Al Maidah/5:12-13). Kepada mereka yang hatinya keras membatu ini Allah mengatakan di surat Az Zumar/39:22,’…maka kecelakaan besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’

c. Kehidupan serba sulit
Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiyamat dalam keadaan buta (Thaha/20: 124). Mungkin ada dari kita yang bertanya,’Mengapa banyak orang yang berpaling dari ayat-ayat Allah tetapi mereka hidup dalam limpahan materi?’. Pertanyaan ini tertuju karena kita berpikir bahwa banyaknya harta selalu berbanding lurus dengan kelapangan hidup. Pertanyaan ini barangkali tidak akan muncul setelah kita sering melihat adanya orang yang hidup dalam gelimangan harta, namun melakukan bunuh diri.

d. Murung yang berkelanjutan
Maka apakah orang-orang yang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dia ke dalam neraka jahannam?....Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan mereka…(At Taubah/9:109-110). Kemunafikan yang dilakukan akan mengantarkan pelakunya dalam kemurungan yang berkelanjutan, sebab dia tidak ingin apa yang disembunyikan dalam dirinya terungkap dan diketahui orang banyak.

e. Muncul rasa takut dan goncangan dalam hati
Akan Kami masukkan kedalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka adalah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang dzalim (Ali Imran/3:151)

Jika ada pelaku maksiyat yang hidup dalam gelimang harta, bukan berarti maksiyatnya yang menjadikan mereka dalam gelimang harta. Sebab kita banyak juga menyaksikan mereka yang tidak bermaksiyat hidup dalam gelimang harta. Jika pelaku maksiyat hidup dalam gelimang harta, tidak bisa dipastikan dia hidup dalam keadaan lapang. Sebab banyak juga orang hidup dalam gelimang harta, namun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Yang bisa kita yakini kebenarannya adalah dengan tidak bermaksiyat, hidup kita akan lapang!




Progress Report adalah laporan perkembangan pekerjaan pelanggan. Link ini, merupakan bukti keseriusan kami terhadap amanah yang diberikan pelanggan kepada kami.


Kata Kunci Al Quran:
Oleh: Ust Ahmad Hariyadi
MUSHIBAH
Senin, 9 Apr 2007 12:24 WIB

Bagaimana kesudahan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah? Bagaimana proses kehancuran para penentang para rasul?

arsip hanif (ust. Ahmad)


“Hidup”, Bersyukurlah!
Oleh: Ust. Heru Pudji Hartanto
Selasa, 5 Sep 2006 10:51 WIB

“Mengapa hidup ini bukan pilihan?”

“Memangnya kenapa dengan hidup ini?”

“Bila seandainya hidup ini adalah sebuah pilihan, tentu saya lebih memilih untuk tidak pernah hidup!”

“Ada apa dengan hidup Ibu?”

“Hidup saya hampir sepenuhnya berisi duka dan derita.”


arsip hanif (ust. Heru)

Media, Ghibah, dan Aib itu!
Senin, 23 Mar 2009 13:51 WIB

Pagi pukul 06.30. Kompleks perumahaan kami didatangi banyak loper koran—tepatnya koran kriminalitas terbitan Surabaya. Mereka berteriak-teriak menyebut nama komplek perumahan kami. Langsung terbayang ...

arsip hikmah


Dialog Online: