Kematian: Kepulangan yang Mendadak atau Terencana? Oleh: Ust. Heru Pudji Hartanto Sabtu, 17 Jun 2006 11:22 WIB
Kembali, bangsa ini diuji. Di saat semua mata tertuju pada puncak Merapi, “tetangga” Merapi yang malah dikunjungi musibah. Gempa bumi menguncang wilayah Yogjakarta dan Jateng. Mendadak dan mengagetkan banyak pihak. Semua orang terperangah; ribuan orang meninggal dan terluka. Seakan-akan kita dituntut untuk lebih banyak berlaga ketimbang berdiskusi mengenai konsep-konsep kemanusiaan di forum-forum seminar.
Terkejut, kaget, heran, dan sulit untuk menerima kejadian tersebut, menggelayut dalam perasaan orang-orang yang ditinggalkan oleh sanak keluarganya yang menjadi korban. Tak pernah terpikirkan oleh mereka, apa dan mengapa semua itu terjadi pada diri mereka. Terlebih bagi bangsa ini yang seakan tak pernah sepi dari musibah.
Perlu kita sadari bahwa gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor atau banjir yang menyebabkan rumah dan harta benda hancur berantakan, bukanlah musibah yang sesungguhnya. Musibah yang sesungguhnya adalah yang menimpa dan menggores apa yang ada pada kalbu jiwa kita. Karena tujuan diturunkannya musibah oleh allah adalah agar dapat dilihat dan disaksikan oleh segenap makhluk, mengenai bagaimana cara-cara kita menerima maupun menyikapinya.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa innaa ilaihi roojiuun.” (Al Baqarah/2: 155-156)
“Cara-cara kita memandang dan menyikapi masalah, merupakan masalah yang sesungguhnya,” tutur Aa’ Gym.
Demikianlah kemampuan setiap individu untuk tetap bersangka baik kepada Allah merupakan ujung perjalanan dalam menghadapi musibah dan kegagalan melakukannya adalah merupakan bencana yang sesungguhnya.
Pertanyaan, “Mengapa dan untuk apa semua bencana (keburukan) ini mesti terjadi dan diberikan kepada manusia?” seakan terdengar lebih keras saat ini dalam benak sanubari kita. Terlebih-lebih kaum moralis yang dengan nada sedikit menggugat, mempertanyakan keadilan dan kemurahan Tuhan.
Syekh Ibn A’thoillah, dalam karya monumentalnya “Al Hikam”, memberikan jawaban, yang semoga dapat sedikit membantu kita memahami berbagai peristiwa yang ada: “Agar pedihnya ujian terasa ringan, hendaklah engkau tahu bahwa Allah-lah yang mengujimu. Yang menimpakan takdir-Nya kepadamu (musibah) adalah juga yang biasa memberimu sebagus-bagus pilihan (kenikmatan).”
Perlu untuk direnungkan, bahwa Tuhan yang beberapa waktu lalu banyak “dipertanyakan”, bahkan digugat, karena telah menurunkan bencana yang membawa ribuan korban jiwa, adalah juga Tuhan (yang sama), yang selama ini telah memberikan banyak kebaikan dalam kehidupan umat manusia.
Kita sering bertanya setengah menggugat Tuhan di kala himpitan hidup datang, tetapi di kala senang seringkali bernyanyi dan tak bertanya sedikitpun kepada-Nya, “Makhluk macam apa kita ini sehingga pantas Engkau beri kebaikan yang banyak?”
Insya Allah, semoga semua hal yang terjadi hanya oleh keterkejutan kitya di saat melihat “ruh-ruh” dipaksa pulang kembali kepada Tuhan-Nya. Bencana telah membuat banyak orang dengan suka rela atau terpaksa untuk pulang menemui-Nya.
Kematian, sebuah kemestian perjalanan pulang yang terlupa atau sengaja untuk dilupakan, terlebih jika terjadi secara mendadak. Akan tetapi benarkah kepulangan mereka terlalu mendadak hingga tak memberi kesempatan buat kita untuk mengiringinya? Bukankah kepulangan kita atau mereka kepada_nya, telah didahului oleh sekian pembiasaan pengkondisian lewat ritual-ritual yang diajarkan oleh agama kita? Bukankah sudah sering kita meninggalkan atau ditinggal oleh mereka yaitu ketika berlatih di saat memenuhi seruan Adzan panggilan shalat—panggilan untuk bersegera “pulang” menemui-Nya. Dan hal itu sudah terlatih dan terkondisikan setiap hari dalam kehidupan kita (minimal shalat 5 waktu).
Ya …, memenuhi panggilan adzan adalah latihan memenui panggilan “kematian”. Dan shalat pun merupakan latihan untuk menemui-Nya, sebelum datangnya dutak paksaan yang membuat semua terpaksa menghadap-Nya.
Oleh karena itu, sering-seringlah berlatih untuk “meninggalkan” atau “ditinggalkan” pulang menghadap kehadirat-Nya. Bila sudah demikian adakah kepulangan yang mendadak? Wallahu ‘alam bishawwab. Teriring doa buat mereka yang berpulang ke Rahmat Allah.
Progress Report adalah laporan perkembangan pekerjaan pelanggan. Link ini, merupakan bukti keseriusan kami terhadap amanah yang diberikan pelanggan kepada kami.
Kata Kunci Al Quran:
Oleh: Ust Ahmad Hariyadi MUSHIBAH Senin, 9 Apr 2007 12:24 WIB
Bagaimana kesudahan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah? Bagaimana proses kehancuran para penentang para rasul?
Pagi pukul 06.30. Kompleks perumahaan kami didatangi banyak loper koran—tepatnya koran kriminalitas terbitan Surabaya. Mereka berteriak-teriak menyebut nama komplek perumahan kami. Langsung terbayang ...