Mendidik Jiwa (1) Oleh: Ust. Heru Pudji Hartanto Kamis, 18 Mei 2006 18:03 WIB
”Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak mendzaliminya dan tidak pula memecah belah persatuannya. Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Dan barangsiapa mengeluarkan (menyelamatkan) seorang Muslim dari kesengsaraan dunia maka Allah akan menyelamatkanya dari kesengsaraan hari akhirat. Dan barangsiapa menutupi (a'ib) seorang Muslim, maka Allah akan menutupi (a'ibnya) pada hari kiamat.
(Al-Hadits)
Seringkali kita diajarkan untuk berhati-hati akan bahaya yang kemungkinan dapat ditimbulkan oleh orang lain terhadap diri kita, namun terlupakan oleh kita semua akan kepatutan untuk jauh lebih berhati-hati terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan oleh diri kita terhadap orang lain. Padahal ketrampilan mengendalikan diri untuk tidak melakukan kejahatan, merupakan separoh langkah didalam upaya mengurangi kejahatan itu sendiri.
Nurfatoni (seorang sahabat sekaligus tetangga rumah saya) menjelaskan bahwa berkaitan dengan proses mendidik jiwa, maka Rasulullah Saw. memberikan tawaran berupa "ilmu menghadirkan". Sebuah ilmu yang diperlukan bagi mereka yang tingkat kepekaan sosialnya rendah atau telah hilang.
Manusia yang kehilangan akan kepekaan dan kepeduliannya terhadap lingkungan beserta orang lain di sekitar kehidupan mereka, akan menjadi sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup sebuah komunitas sosial.
Naudzubillahi min dzalika.... bukan hanya akan terwujud masyarakat yang individualistik, yang tidak peduli terhadap musibah yang menimpa pihak lain oleh sebab perbuatan orang lain pula. Bahkan bisa jadi, seseorang tak lagi ambil pusing akan musibah yang akan menimpa orang lain oleh sebab perbuatan yang diakibatkan oleh dirinya.
Dalam sebuah riwayat, dikisahkan adanya seseorang yang sedang mengutarakan keadaan dirinya di hadapan Rasulullah. Bahwa dirinya ingin ber-Islam, tetapi masih memiliki keinginan untuk berzinah. Maka Rasulullah saw menyampaikan "ilmu kehadiran" tersebut.
"Bagaimana bila saudaramu perempuan, atau anak perempuanmu, atau ibumu yang dizinahi oleh orang lain?" tanya Rasulullah saw.
"Tentu aku akan mencegah, melawan dan ....!" jawab lelaki tersebut, yang bangkit kemarahannya bila keadaan tersebut menimpa orang-orang terdekat dalam hidupnya.
"Bila engkau marah, maka demikian pula keadaan keluarga terdekat dari wanita yang engkau zinahi!” ungkap Rasulullah saw.
Sebuah fakta, sekalipun seseorang tidak lagi memiliki kepedulian terhadap orang lain, namun ia akan tetap memiliki perhatian penuh dengan apa dan siapapun orang terdekat dalam kehidupan individualnya. Maka membangun kesadaran "me-luas", bahwa orang lain juga merupakan saudara dan bagian dari keluarga kehidupan kita, adalah hal penting!
Dengan menjadikan kaum Muslimin sebagai saudara kita, maka kita akan memperlakukan mereka seperti saudara kita. Dengannya sikap mendzalimi dan memecah belah mereka, menjadi sulit terlahir didalam perilaku kehidupan kita.
Hanya oleh karena kita tidak lagi cerdas secara spiritual, untuk menemukan hubungan kekeluargaan dalam perspektif yang lebih luas karena terikat pemahaman ”keluarga” hanya dalam perpektif biologis, maka banyak kejahatan dan kedzaliman terjadi.
Progress Report adalah laporan perkembangan pekerjaan pelanggan. Link ini, merupakan bukti keseriusan kami terhadap amanah yang diberikan pelanggan kepada kami.
Kata Kunci Al Quran:
Oleh: Ust Ahmad Hariyadi MUSHIBAH Senin, 9 Apr 2007 12:24 WIB
Bagaimana kesudahan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah? Bagaimana proses kehancuran para penentang para rasul?
Pagi pukul 06.30. Kompleks perumahaan kami didatangi banyak loper koran—tepatnya koran kriminalitas terbitan Surabaya. Mereka berteriak-teriak menyebut nama komplek perumahan kami. Langsung terbayang ...